PENGALAMAN PKL PART1



Apa kabar sahabat blogger semua semoga keadaan sehat semua ya, oke deh  langsung saja ya saya disini akan menceritakan pengalam PKL saya suwaktu saya duduk dikelas 11 tepatnya di SMKN 03 KO******. Jujur waktu pemilihan tempat PKL saya sangat bingung harus pkl di mana? Mau di dalam kota atau di luar kota, dan kata-kata orang sih PKL itu enaknya di luar kota agar lebih banyak pengalam tapi sebelum anda memutuskan untuk PKL di luar kota kita harus memikirkan dulu kemampuan kita seperti kemapuan keuangan dan skill, karena kalo kita sampai memilih tempat PKL diluar kota dan kemampuan skill kita kurang otomatis kita juga tidak akan kepakai walaupun tempat PKL kita sabagus apapun, eits” tapi itu kata orang-orang sih . Tapi kalo kata saya sih yang paling penting itu kita punya kemauan dan kita mempunyai tujuan apasih yang mau kita lakukan di tempat PKL, karena banyak orang yang bertujuan PKL diluar kota itu hanya untuk agar bebas dari orang tua dan bisa melaukan apa yang ingin mereka lakukan, rata-rata sih kawan-kawan saya begitu J .  Jadi walaupun kita disekolah males-malesan tapi kalo kita  di tempat PKL sangat serius untuk mengetahui sesuatu yang baru dan kita aktif, Inssyaallah kita akan banyak di senangi di tempat PKL kita. Jadi kalo kata saya sih percuma kita pintar atau mengetahui semua kalo kita sombong, pasti orang di tempat PKL kita males menogor kita apalagi menguruh kita, “Nah kok malahan jadi motivator saya ini” hehe. oke deh sampai disini saja dulu curhatan hati saya, kalo mau kelanjutannya jangan lupa ya BACA artikel selanjutnya “PENGALAMAN PKL PART 2” 

KARYA TULIS TENTANG SISTEM KOLOID LENGKAP DENGAN PENJELASAN DAN GAMBARNYA

KARYA TULIS
SISTEM KOLOID


DISUSUN OLEH :
MUHAMMAD HASBI GHIBRAN


SMKN 03 KOTABUMI

TP. 2015 / 2016

KATA PENGHANTAR

Segala puji bagi Allah swt yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik.
Karya tulis  ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang Ilmu kimia, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Karya tulis  ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya karya tulis  ini dapat terselesaikan.
Karya tulis ini memuat tentang “Sistem Koloid”. Walaupun karya tulis ini mungkin kurang sempurna tapi juga memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca.
Semoga karya tulis ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun karya tulis ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.

                                                                                                           














DAFTAR ISI

KATA PENGHANTAR ...................................................................................................... 1
DAFTAR ISI ........................................................................................................................ 2
I . PENDAHULUAN
1.1         Latar Belakang ............................................................................................................. 3
1.2         Perumusan Masalah ..................................................................................................... 3
1.3         Tujuan dan Manfaat ..................................................................................................... 3
1.4         Metode penelitian ......................................................................................................... 3
II . LANDASAN TEORI
2.1     Sistem Koloid ............................................................................................................... 4
2.2     Jenis Koloid .................................................................................................................. 4
2.3     Sifat Koloid ..................................................................................................................  6
2.4     Pembuatan koloid  ........................................................................................................  8
           
III . PENUTUP
3.1 Kesimpulan ...................................................................................................................... 10
3.2 Saran ................................................................................................................................ 10
3.3 Daftar Pusaka ................................................................................................................... 10







                   

I . PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
          Dalam kehidupan sehari – hari kita sering bahkan selalu menggunakan bahan – bahan kimia, seperti sabun, minyak wangi, pasta gigi, dan lain – lain. Bahan- bahan kimia tersebut tidak dalam bentuk padatan maupun larutan, tetapi dalam bentuk antara padatan dan larutan yaitu disebut koloid. Sistem koloid perlu kita pelajarin karena berkaitan erat dengan hidup dan kehidupan kita sehari – hari. Cairan tubuh, seperti adalah sistem koloid; bahan makanan, seperti susu, keju, nasi dan roti adalah sistem koloid; cat, berbagai jenis obat, bahan kosmetik, tanah pertanian juga merupakan sistem koloid
Sistem koloid merupakan suatu bentuk campuran dua atau lebih zat yang bersifat homogen namun memiliki ukuran partikel terdispersi yang cukup besar (1 - 100 nm), sehingga terkena efek Tyndall. Bersifat homogen berarti partikel terdispersi tidak terpengaruh oleh gaya gravitasi atau gaya lain yang dikenakan kepadanya; sehingga tidak terjadi pengendapan, misalnya. Sifat homogen ini juga dimiliki oleh larutan, namun tidak dimiliki oleh campuran biasa (suspensi).
Koloid mudah dijumpai di mana-mana: susu, agar-agar, tinta, sampo, sertaawan merupakan contoh-contoh koloid yang dpat dijumpai sehari-hari.Sitoplasma dalam sel juga merupakan sistem koloid. Kimia koloid menjadi kajian tersendiri dalam kimia industri karena kepentingannya.

1.2  Perumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan sistem koloid ?
2.      Jelaskan macam-macam jenis koloid ?
3.      Bagaimana sifat-sifat koloid ?
4.      Bagaimana proses pembuatan koloid ?

1.3  Tujuan dan Manfaat
1.    Agar pembaca dapat mengetahui apa itu sistem koloid.
2.    Agar pembaca dapat mengetahui macam-macam jenis koloid.
3.    Agar pembaca dapat mengetahui sifat-sifat koloid .
4.    Agar pembaca dapat mengetahui pembuatan koloid .


1.4  Metode Penelitian
Dalam metode penelitian kami mempunyai metode dengan mencari dari berbagai sumber seperti buku, blog-blog dan website-website kemudian kami kumpulkan untuk membuat karya tulis yang baik dan benar.




II . LANDASAN TEORI
2.1 Sistem Koloid
            Sistem koloid adalah suatu bentuk campuran dua zat atau lebih yang keadaannya terletak antara larutan dan suspensi (campuran kasar) yang partikelnya berukuran 1-100nm yang bersifat homogen.
Homogen berarti partikel terdispersi (terlarut) tidak terpengaruh oleh gaya gravitasi atau gaya lain yang dikenakan kepadanya, sehingga tidak terjadi pengendapan, misalnya air gula .
Sifat homogen ini juga dimiliki oleh larutan karena Larutan adalah campuran homogen antara zat terlarut dan pelarut. Zat terlarut dinamakan juga dengan fasa terdispersi atau solut, sedangkan zat pelarut disebut dengan fasa pendispersi atau solvent.
Namun sifat homogen tidak dimiliki oleh suspensi (larutan kasar), karena suspensi bersifat heterogen yang berarti campuran yang memiliki sifat tidak sama pada setiap bagian campuran, contohnya pasir dan semen.


2.2           Jenis Koloid

a. Aerosol
Aerosol adalah sistem koloid dari partikel padat atau cair yang terdispersi dalam gas.
Jika yang terdispersi berupa zat padat disebut aerosol padat, (contoh: asap dan debu dalam udara)
https://fauzanagazali.files.wordpress.com/2011/05/asap-kereta.jpg?w=150&h=112









Dan jika zat yang terdispersi berupa zat cair disebut aerosol cair, contoh: kabut dan awan)
https://fauzanagazali.files.wordpress.com/2011/05/fog1.jpg?w=240&h=160











b. Sol
Koloid sol adalah koloid dengan zat terdispersinya berfase padat. Berdasarkan fase mediumnya koloid sol dibagi menjadi 2 jenis, yaitu sebagai berikut.
1.      Sol padat (padat-padat)
Sol padat adalah jenis koloid dengan zat fase padat terdispersi dalam zat fase padat. Contoh: logam paduan, kaca berwarna, intan hitam, dan baja.
https://fauzanagazali.files.wordpress.com/2011/05/20071219-tintas.jpg?w=144&h=1162.      Sol cair (padat-cair)
Sol cair atau disebut sol saja adalah jenis koloid dengan zat fase padat terdispersi dalam zat fase cair. Artinya, zat terdispersi berfase padat dan zat pendispersi (medium) berfase cair. Contoh: cat, tinta, dan kanji.


c. Emulsi
Emulsi adalah koloid dengan zat terdispersinya berfase cair. Berdasarkan fase mediumnya koloid emulsi dibagi menjadi 2 jenis, yaitu sebagai berikut.
1.      Emulsi padat (cair-padat)
Emulsi padat (gel) adalah koloid dengan zat fase cair terdispersi dalam zat fase padat. Artinya, zat terdispersi berfase cair dan zat pendispersi (medium) berfase padat. Contoh: mentega, keju, jeli, dan mutiara.
https://fauzanagazali.files.wordpress.com/2011/05/milk.jpg?w=150&h=1372.       Emulsi cair (cair-cair)
Emulsi cair (emulsi) adalah koloid dengan zat fase cair terdispersi dalam zat fase cair. Artinya, zat terdispersi berfase cair dan zat pendispersi (medium) berfase cair. Contoh: susu, minyak ikan, dan santan kelapa.

d. Buih
Buih adalah koloid dengan zat terdispersinya berfase gas. Berdasarkan fase mediumnya koloid buih dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu sebagai berikut.
1.       Buih padat (gas-padat)
Buih padat adalah koloid dengan zat fase gas terdispersi dalam zat fase padat. Artinya, zat terdispersi berfase gas dan zat pendispersi (medium) berfase padat. Contoh: busa pada jok mobil dan batu apung.
2.       Buih cair (gas-cair)
Buih cair (buih) adalah koloid dengan zat fase gas terdispersi dalam zat fase cair. Artinya, zat terdispersi berfase gas dan zat pendispersi (medium) berfase cair. Contoh: buih sabun, buih soda, dan krim kocok.
Untuk zat berfase gas terdispersi dalam zat berfase gas bukan merupakan koloid, melainkan merupakan larutan. Contohnya, larutan-larutan dalam udara bersih.

2.3            Sifat Koloid
a.  Efek Tyndall
Jika seberkas cahaya dilewatkan pada suatu sistem koloid, maka cahaya tersebut akan dihamburkannya sehingga berkas cahaya tersebut akan kelihatan. Sedangkan jika cahaya dilewatkan pada larutan sejati maka cahaya tersebut akan diteruskannya . Sifat koloid yang seperti inilah yang dikenal dengan efek tyndall dan sifat ini dapat digunakan untuk membedakan koloid dengan larutan sejati. Gejala ini pertama kali ditemukan oleh Michael Faradaykemudian diselidiki lebih lanjut oleh  John Tyndall (1820 – 1893), seorang ahli Fisikabangsa Inggris.
https://fauzanagazali.files.wordpress.com/2011/05/picture12.jpg?w=480&h=223
https://fauzanagazali.files.wordpress.com/2011/05/k.jpg?w=150&h=70Efek Tyndall juga dapat menjelaskan mengapa langit pada siang hari berwarna biru sedangkan pada saat matahari terbenam, langit di ufuk barat berwarna jingga atau merah. Hal itu disebabkan oleh penghamburan cahaya matahari oleh partikel koloid di angkasa dan tidak semua frekuensi dari sinar matahari dihamburkan dengan intensitas sama.
Jika intensitas cahaya yang dihamburkan berbanding lurus dengan frekuensi, maka pada waktu siang hari ketika matahari melintas di atas kita frekuensi paling tinggi (warna biru) yang banyak dihamburkan, sehingga kita melihat langit berwarna biru. Sedangkan ketika matahari terbenam, hamburan frekuensi rendah (warna merah) lebih banyak dihamburkan,  sehingga kita melihat langit berwarna jingga atau merah.
Gejala efek tyndall yang dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut:
–          Sorot lampu mobil pada malam yang berkabut
–          Sorot lampu proyektor dalam gedung bioskop yang berasap dan berdebu
–          Berkas sinar matahari melalui celah pohon-pohon pada pagi yang berkabut
b.    Gerak Brown
https://fauzanagazali.files.wordpress.com/2011/05/brown-lagi.jpg?w=128&h=150Gerak brown merupakan gerak patah-patah (zig-zag) partikel koloid yang terus menerus dan hanya dapat diamati dengan mikroskop ultra. Gerak brown terjadi sebagai akibat tumbukan yang tidak seimbang dari molekul-molekul medium terhadap partikel koloid.Dalam suspensi tidak terjadi gerak Brown karena ukuran partikel cukup besar, sehingga tumbukan yang dialaminya setimbang. Partikel zat terlarut juga mengalami gerak Brown, tetapi tidak dapat diamati. Semakin tinggi suhu, maka gerak brown yang terjadi juga semakin cepat, karena energi molekul medium meningkat sehingga menghasilkan tumbukan yang lebih kuat.
Gerak Brown merupakan faktor penyebab stabilnya partikel koloid dalam medium dispersinya. Gerak brown yang terus menerus dapat mengimbangi gaya gravitasi sehingga partikel koloid tidak mengalami sedimentasi (pengendapan).
c.   Elektroforesis
https://fauzanagazali.files.wordpress.com/2011/05/elektroforesis.gif?w=150&h=101Partikel koloid dapat bergerak dalam medan listrik karena partikel koloid bermuatan listrik. Pergerakan partikel koloid dalam medan listrik ini disebut elektroforesis. Jika dua batang elektrode dimasukkan kedalam sistem koloid dan kemudian dihubungkan dengan sumber arus searah, maka partikel koloid akan bergerak kesalah satu elektrode tergantung pada jenis muatannya. Koloid bermuatan negatif akan bergerak ke anode (elektrode positif) sedang koloid bermuatan positif akan bergerak ke katode (elektrode negatif).
https://fauzanagazali.files.wordpress.com/2011/05/elektroforesisa4.jpg?w=123&h=150Elektroforesis dapat digunakan untuk mendeteksi muatan partikel koloid. Jika partikel koloid berkumpul dielektrode positif berarti koloid bermuatan negatif, jika partikel koloid berkumpul dielektrode negatif bearti koloid bermuatan positif. Peristiwa elektroforesis ini sering dimanfaatkan kepolisian dalam identifikasi/tes DNA pada jenazah korban pembunuhan/ jenazah tak dikenal



d.   Adsorpsi
https://fauzanagazali.files.wordpress.com/2011/05/adsorbsi.jpg?w=150&h=115Adsorpsi  adalah peristiwa di mana suatu zat menempel pada permukaan zat lain, seperti ion H+ dan OH  dari medium pendispersi. Untuk berlangsungnya adsorpsi, minimum harus ada dua macam zat, yaitu zat yang tertarik disebut adsorbat, dan zat yang menarik disebut  adsorban. Apabila terjadi penyerapan ion ada permukaan partikel koloid maka partikel koloid dapat bermuatan listrik yang muatannya ditentukan oleh muatan ion-ion yang mengelilinginya.
https://fauzanagazali.files.wordpress.com/2011/05/gerak-brown2.jpg?w=150&h=115Partikel koloid mempunyai kemampuan menyerap ion atau muatan listrik pada permukaannya. Oleh karena itu partikel koloid bermuatan listrik. Penyerapan pada permukaan ini disebut dengan adsorpsi. Contohnya sol Fe(OH)3 dalam air mengadsorpsi ion positif sehingga bermuatan positif dan sol As2S3 mengadsorpsi ion negatif sehingga bermuatan negatif. Pemanfaatan sifat adsorpsi koloid dalam kehidupan antara lain dalam proses pemutihan gula tebu, dalam pembuatan norit (tablet yang terbuat dari karbon aktif) dan dalam proses penjernihan air dengan penambahan tawas.

e.   Koagulasi
Koagulasi adalah peristiwa pengendapan atau penggumpalan koloid. Koloid distabilkan oleh muatannya. Jika muatan koloid dilucuti atau dihilangkan, maka kestabilannya akan berkurang sehingga dapat menyebabkan koagulasi atau penggumpalan. Pelucutan muatan koloid dapat terjadi pada sel elektroforesis atau jika elektrolit ditambahakan ke dalam system koloid. Apabila arus listrik dialirkan cukup lama kedalam sel elektroforesis, maka partikel koloid akan digumpalkan ketika mencapai electrode. Koagulasi koloid karena penambahan elektrolit terjadi karena koloid bermuatan positif menarik ion negative dan koloid bermuatan negative menarik ion positif. Ion-ion tersebut akan membentuk selubung lapisan kedua. Jika selubung itu terlalu dekat, maka selubung itu akan menetralkan koloid sehingga terjadi koagulasi.
Beberapa contoh peristiwa koagulasi dalam kehidupan sehari-hari adalah:
–          Pembentukan delta di muara sungai karena koloid tanah liat dalam air sungai mengalami koagulasi ketika bercampur dengan elektrolit dalam air laut.
–          Karet dalam latek digumpalkan dengan menambahkan asam formiat
–          Lumpur koloidal dalam air sungai dapat digumpalkan dengan menambahkan tawas
–          Asap atau debu pabrik dapat digumpalkan dengan alat koagulasi listrik dari cottrel.


2.4            . Pembuatan Koloid
Pembuatan koloid ada dua macam yaitu dengan cara dispersi dan

A.   Pembuatan koloid dengan cara dispersi
 Dengan cara dispersi partikel kasar dipecah menjadi partikel koloid. Cara dispersi dapat dilakukan dengan 3 jenis yaitu :

.                  1. Cara mekanik, yaitu menggerus (menggiling) partikel kasar sampai berukuran koloid, contohnya membuat koloid belerang dan urea masing-masing dari butirannya.

                  2. Cara elektronik, yaitu membuat koloid dengan mencelupkan dua elektroda logam (seperti emas) ke dalam air. Akibatnya atom-atom emas lepas dari elektroda dan bergabung membentuk partikel koloid emas (gambar 10.6). Demikian juga cara membuat koloid lain, seperti platina dan perak.
     
3. Cara peptisasi, yaitu membuat koloid dengan menambahkan suatu cairan kapada partikel kasar (endapan) sehingga pecah menjadi koloid. Contohnya membuat koloid AgCl dengan menambahkan air suling kepada padatan AgCl, dan menambahkan HCl encer pada endapan Al (OH)3 dapat dibuat dengan menambahkan larutan FeCI3 pada endapan Fe(OH)3.

B.   Pembuatan koloid dengan cara kondensasi
Kondensasi adalah kebalikan dari dispersi, yaitu penggabungan (kondensasi) partikel kecil menjadi lebih besar sampai berukuran koloid.Penggabungan ini  terjadi dengan berbagai cara,
Dan cara pembuatan koloid kondensasi terbagi 4 jenis yaitu :

1. Reaksi Oksidasi
Pembuatan sol dengan cara oksidasi, misalnya pembuatan sol belerang. Sol belerang dibuat dengan mengalirkan gas H2S ke dalam larutan SO2.
Reaksi:            2 H2S(g) + SO2(g) 3 S(s) + 2 H2O(l)
Pada reaksi di atas S2– dioksidasi menjadi S.

2. Reaksi Reduksi
Sol dari logam Pt, Ag, dan Au dapat dibuat dengan cara mereaksikan larutan encer ion logam dengan zat pereduksi misalnya FeSO4, formaldehida, dan timah klorida. Contohnya pembuatan sol emas.
Reaksi:            2 AuCl3(aq) + 3 SnCl2(aq) 2 SnCl4(aq) + 2 Au(s)
sol emas
Pada reaksi tersebut ion Au3+ direduksi menjadi logam emas.

 3. Reaksi Hidrolisis
Pembuatan koloid dengan cara reaksi hidrolisis, contohnya pembuatan sol Fe(OH)3. Reaksi:
FeCl3(aq) + 3 H2O(l) Fe(OH)3(s) + 3 HCl(aq)

 4. Dekomposisi Rangkap
Sol As2S3 dapat dibuat dari reaksi antara larutan H3AsO3 dengan larutan H2S
2H3AsO3 + 3H2S As2S3 (koloid) + 6H2O

Misalnya:
– Sol As2S3 dibuat dengan gaya mengalirkan H2S dengan perlahan-lahan melalui larutan As2O3 dingin sampai terbentuk sol As2S3 yang berwarna kuning terang;
As2O3 (aq) + 3H2S(g) As2O3 (koloid) + 3H2O(l)
(Koloid As2S3 bermuatan negatif karena permukaannya menyerap ion S2-)
– Sol AgCl dibuat dengan mencampurkan larutan AgNO3 encer dan larutan HCl encer;
AgNO3 (ag) + HCl(aq) AgCl (koloid) + HNO3 (aq)



III . PENUTUP
3.1 Kesimpulan

3.2 Saran
          Kami selaku pembuat makalah kami menginginkan agar guru kimia dapat membuat murid-murid agar bisa menyukai pembelajaran kimia

3.3 Daftar Pusaka
http://sistemkoloid11.blogspot.com/
http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_koloid
http://thafransisca.wordpress.com