Apa kabar sahabat blogger semua semoga keadaan sehat semua
ya, oke deh langsung saja ya saya disini
akan menceritakan pengalam PKL saya suwaktu saya duduk dikelas 11 tepatnya di
SMKN 03 KO******. Jujur waktu pemilihan tempat PKL saya sangat bingung harus
pkl di mana? Mau di dalam kota atau di luar kota, dan kata-kata orang sih PKL
itu enaknya di luar kota agar lebih banyak pengalam tapi sebelum anda memutuskan
untuk PKL di luar kota kita harus memikirkan dulu kemampuan kita seperti
kemapuan keuangan dan skill, karena kalo kita sampai memilih tempat PKL diluar
kota dan kemampuan skill kita kurang otomatis kita juga tidak akan kepakai
walaupun tempat PKL kita sabagus apapun, eits” tapi itu kata orang-orang sih .
Tapi kalo kata saya sih yang paling penting itu kita punya kemauan dan kita
mempunyai tujuan apasih yang mau kita lakukan di tempat PKL, karena banyak
orang yang bertujuan PKL diluar kota itu hanya untuk agar bebas dari orang tua
dan bisa melaukan apa yang ingin mereka lakukan, rata-rata sih kawan-kawan saya
begitu J .
Jadi walaupun kita disekolah
males-malesan tapi kalo kita di tempat
PKL sangat serius untuk mengetahui sesuatu yang baru dan kita aktif,
Inssyaallah kita akan banyak di senangi di tempat PKL kita. Jadi kalo kata saya
sih percuma kita pintar atau mengetahui semua kalo kita sombong, pasti orang di
tempat PKL kita males menogor kita apalagi menguruh kita, “Nah kok malahan jadi
motivator saya ini” hehe. oke deh sampai disini saja dulu curhatan hati saya,
kalo mau kelanjutannya jangan lupa ya BACA artikel selanjutnya “PENGALAMAN PKL
PART 2”
KARYA TULIS TENTANG SISTEM KOLOID LENGKAP DENGAN PENJELASAN DAN GAMBARNYA
KARYA
TULIS
SISTEM
KOLOID
DISUSUN
OLEH :
MUHAMMAD
HASBI GHIBRAN
SMKN
03 KOTABUMI
TP.
2015 / 2016
Efek Tyndall juga dapat menjelaskan
mengapa langit pada siang hari berwarna biru sedangkan pada saat matahari
terbenam, langit di ufuk barat berwarna jingga atau merah. Hal itu disebabkan
oleh penghamburan cahaya matahari oleh partikel koloid di angkasa dan tidak
semua frekuensi dari sinar matahari dihamburkan dengan intensitas sama.
Gerak brown merupakan gerak patah-patah
(zig-zag) partikel koloid yang terus menerus dan hanya dapat diamati
dengan mikroskop ultra. Gerak brown terjadi sebagai akibat tumbukan yang
tidak seimbang dari molekul-molekul medium terhadap partikel koloid.Dalam suspensi
tidak terjadi gerak Brown karena ukuran partikel cukup besar, sehingga tumbukan
yang dialaminya setimbang. Partikel zat terlarut juga mengalami gerak Brown,
tetapi tidak dapat diamati. Semakin tinggi suhu, maka gerak brown yang terjadi
juga semakin cepat, karena energi molekul medium meningkat sehingga
menghasilkan tumbukan yang lebih kuat.
Partikel koloid dapat bergerak dalam
medan listrik karena partikel koloid bermuatan listrik. Pergerakan partikel
koloid dalam medan listrik ini disebut elektroforesis. Jika dua batang
elektrode dimasukkan kedalam sistem koloid dan kemudian dihubungkan dengan
sumber arus searah, maka partikel koloid akan bergerak kesalah satu elektrode
tergantung pada jenis muatannya. Koloid bermuatan negatif akan bergerak ke
anode (elektrode positif) sedang koloid bermuatan positif akan bergerak ke
katode (elektrode negatif).
Elektroforesis dapat digunakan untuk
mendeteksi muatan partikel koloid. Jika partikel koloid berkumpul dielektrode
positif berarti koloid bermuatan negatif, jika partikel koloid berkumpul
dielektrode negatif bearti koloid bermuatan positif. Peristiwa elektroforesis
ini sering dimanfaatkan kepolisian dalam identifikasi/tes DNA pada jenazah
korban pembunuhan/ jenazah tak dikenal
Adsorpsi adalah peristiwa di mana
suatu zat menempel pada permukaan zat lain, seperti ion H+ dan OH– dari
medium pendispersi. Untuk berlangsungnya adsorpsi, minimum harus ada dua macam
zat, yaitu zat yang tertarik disebut adsorbat, dan zat yang menarik
disebut adsorban. Apabila terjadi penyerapan ion ada permukaan partikel
koloid maka partikel koloid dapat bermuatan listrik yang muatannya ditentukan
oleh muatan ion-ion yang mengelilinginya.
Partikel koloid mempunyai kemampuan
menyerap ion atau muatan listrik pada permukaannya. Oleh karena itu partikel
koloid bermuatan listrik. Penyerapan pada permukaan ini disebut dengan
adsorpsi. Contohnya sol Fe(OH)3 dalam air
mengadsorpsi ion positif sehingga bermuatan positif dan sol As2S3 mengadsorpsi
ion negatif sehingga bermuatan negatif. Pemanfaatan sifat adsorpsi koloid dalam
kehidupan antara lain dalam proses pemutihan gula tebu, dalam pembuatan norit
(tablet yang terbuat dari karbon aktif) dan dalam proses penjernihan air dengan
penambahan tawas.
http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_koloid
http://thafransisca.wordpress.com
KATA
PENGHANTAR
Segala puji bagi Allah swt yang
telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan.
Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan
baik.
Karya tulis ini disusun agar pembaca dapat memperluas
ilmu tentang Ilmu kimia, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai
sumber. Karya tulis ini di susun oleh
penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun
maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama
pertolongan dari Allah akhirnya karya tulis
ini dapat terselesaikan.
Karya tulis ini memuat tentang
“Sistem Koloid”. Walaupun karya tulis ini mungkin kurang sempurna tapi juga
memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca.
Semoga karya tulis ini dapat
memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun karya tulis ini
memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya.
Terima kasih.
DAFTAR
ISI
KATA
PENGHANTAR ......................................................................................................
1
DAFTAR
ISI
........................................................................................................................
2
I
. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang .............................................................................................................
3
1.2
Perumusan Masalah .....................................................................................................
3
1.3
Tujuan dan Manfaat
.....................................................................................................
3
1.4
Metode penelitian
.........................................................................................................
3
II
. LANDASAN TEORI
2.1 Sistem
Koloid
...............................................................................................................
4
2.2 Jenis Koloid
..................................................................................................................
4
2.3
Sifat Koloid
.................................................................................................................. 6
2.4
Pembuatan koloid ........................................................................................................ 8
III
. PENUTUP
3.1
Kesimpulan
......................................................................................................................
10
3.2
Saran ................................................................................................................................
10
3.3
Daftar Pusaka
...................................................................................................................
10
I . PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Dalam
kehidupan sehari – hari kita sering bahkan selalu menggunakan bahan – bahan
kimia, seperti sabun, minyak wangi, pasta gigi, dan lain – lain. Bahan- bahan
kimia tersebut tidak dalam bentuk padatan maupun larutan, tetapi dalam bentuk
antara padatan dan larutan yaitu disebut koloid. Sistem koloid perlu kita pelajarin karena berkaitan
erat dengan hidup dan kehidupan kita sehari – hari. Cairan tubuh, seperti
adalah sistem koloid; bahan makanan, seperti susu, keju, nasi dan roti adalah
sistem koloid; cat, berbagai jenis obat, bahan kosmetik, tanah pertanian juga
merupakan sistem koloid
Sistem koloid merupakan suatu bentuk
campuran dua atau lebih zat yang bersifat homogen namun memiliki ukuran
partikel terdispersi yang cukup besar (1 - 100 nm), sehingga terkena efek
Tyndall. Bersifat homogen berarti partikel terdispersi tidak terpengaruh
oleh gaya gravitasi atau gaya lain yang dikenakan kepadanya;
sehingga tidak terjadi pengendapan, misalnya. Sifat homogen ini juga dimiliki oleh larutan,
namun tidak dimiliki oleh campuran biasa (suspensi).
Koloid mudah dijumpai di
mana-mana: susu, agar-agar, tinta, sampo,
sertaawan merupakan contoh-contoh koloid yang dpat dijumpai
sehari-hari.Sitoplasma dalam sel juga merupakan sistem
koloid. Kimia koloid menjadi kajian tersendiri
dalam kimia industri karena kepentingannya.
1.2 Perumusan
Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan sistem koloid ?
2.
Jelaskan macam-macam jenis koloid ?
3.
Bagaimana sifat-sifat koloid ?
4.
Bagaimana proses pembuatan koloid ?
1.3 Tujuan
dan Manfaat
1. Agar
pembaca dapat mengetahui apa itu sistem koloid.
2. Agar
pembaca dapat mengetahui macam-macam jenis koloid.
3. Agar
pembaca dapat mengetahui sifat-sifat koloid .
4. Agar
pembaca dapat mengetahui pembuatan koloid .
1.4 Metode
Penelitian
Dalam metode penelitian kami mempunyai metode dengan
mencari dari berbagai sumber seperti buku, blog-blog dan website-website
kemudian kami kumpulkan untuk membuat karya tulis yang baik dan benar.
II . LANDASAN TEORI
2.1
Sistem Koloid
Sistem
koloid adalah suatu bentuk campuran dua zat atau lebih yang keadaannya terletak
antara larutan dan suspensi (campuran kasar) yang partikelnya berukuran 1-100nm
yang bersifat homogen.
Homogen
berarti partikel terdispersi (terlarut) tidak terpengaruh oleh gaya gravitasi
atau gaya lain yang dikenakan kepadanya, sehingga tidak terjadi pengendapan,
misalnya air gula .
Sifat
homogen ini juga dimiliki oleh larutan
karena Larutan adalah campuran homogen antara zat terlarut dan pelarut. Zat
terlarut dinamakan juga dengan fasa terdispersi atau solut, sedangkan zat
pelarut disebut dengan fasa pendispersi atau solvent.
Namun
sifat homogen tidak dimiliki oleh suspensi (larutan kasar), karena suspensi
bersifat heterogen yang berarti campuran yang memiliki sifat tidak sama pada
setiap bagian campuran, contohnya pasir dan semen.
2.2
Jenis
Koloid
a.
Aerosol
Aerosol
adalah sistem koloid dari partikel padat atau cair yang terdispersi dalam gas.
Jika
yang terdispersi berupa zat padat disebut aerosol padat, (contoh: asap dan debu dalam udara)
Dan
jika zat yang terdispersi berupa zat cair disebut aerosol cair, contoh: kabut dan awan)
b. Sol
Koloid sol adalah koloid dengan zat
terdispersinya berfase padat. Berdasarkan fase mediumnya koloid sol dibagi
menjadi 2 jenis, yaitu sebagai berikut.
1.
Sol padat (padat-padat)
Sol padat adalah jenis koloid dengan zat
fase padat terdispersi dalam zat fase padat. Contoh: logam paduan, kaca
berwarna, intan hitam, dan baja.
Sol cair atau disebut sol saja adalah jenis
koloid dengan zat fase padat terdispersi dalam zat fase cair. Artinya, zat
terdispersi berfase padat dan zat pendispersi (medium) berfase cair. Contoh:
cat, tinta, dan kanji.
c. Emulsi
Emulsi adalah koloid dengan zat terdispersinya
berfase cair. Berdasarkan fase mediumnya koloid emulsi dibagi menjadi 2 jenis,
yaitu sebagai berikut.
1.
Emulsi padat (cair-padat)
Emulsi padat (gel) adalah koloid dengan zat fase cair
terdispersi dalam zat fase padat. Artinya, zat terdispersi berfase cair dan zat
pendispersi (medium) berfase padat. Contoh: mentega, keju, jeli, dan mutiara.
Emulsi cair (emulsi) adalah koloid
dengan zat fase cair terdispersi dalam zat fase cair. Artinya, zat terdispersi berfase
cair dan zat pendispersi (medium) berfase cair. Contoh: susu, minyak ikan, dan
santan kelapa.
d. Buih
Buih adalah koloid dengan zat
terdispersinya berfase gas. Berdasarkan fase mediumnya koloid buih dibedakan
menjadi 2 jenis, yaitu sebagai berikut.
1.
Buih padat (gas-padat)
Buih padat adalah koloid dengan zat fase gas
terdispersi dalam zat fase padat. Artinya, zat terdispersi berfase gas dan zat
pendispersi (medium) berfase padat. Contoh: busa pada jok mobil dan batu apung.
2.
Buih cair (gas-cair)
Buih cair (buih) adalah koloid dengan zat fase gas
terdispersi dalam zat fase cair. Artinya, zat terdispersi berfase gas dan zat
pendispersi (medium) berfase cair. Contoh: buih sabun, buih soda, dan krim
kocok.
Untuk zat berfase gas terdispersi dalam zat berfase gas bukan merupakan
koloid, melainkan merupakan larutan. Contohnya, larutan-larutan dalam udara
bersih.
2.3
Sifat Koloid
a. Efek Tyndall
Jika seberkas cahaya dilewatkan pada suatu sistem koloid, maka cahaya
tersebut akan dihamburkannya sehingga berkas cahaya tersebut akan kelihatan.
Sedangkan jika cahaya dilewatkan pada larutan sejati maka cahaya tersebut akan
diteruskannya . Sifat koloid yang seperti inilah yang dikenal dengan efek
tyndall dan sifat ini dapat digunakan untuk membedakan koloid dengan larutan
sejati. Gejala ini pertama kali ditemukan oleh Michael Faradaykemudian
diselidiki lebih lanjut oleh John Tyndall (1820 – 1893), seorang ahli
Fisikabangsa Inggris.
Efek Tyndall juga dapat menjelaskan
mengapa langit pada siang hari berwarna biru sedangkan pada saat matahari
terbenam, langit di ufuk barat berwarna jingga atau merah. Hal itu disebabkan
oleh penghamburan cahaya matahari oleh partikel koloid di angkasa dan tidak
semua frekuensi dari sinar matahari dihamburkan dengan intensitas sama.
Jika intensitas cahaya yang dihamburkan
berbanding lurus dengan frekuensi, maka pada waktu siang hari ketika matahari
melintas di atas kita frekuensi paling tinggi (warna biru) yang banyak
dihamburkan, sehingga kita melihat langit berwarna biru. Sedangkan ketika
matahari terbenam, hamburan frekuensi rendah (warna merah) lebih banyak
dihamburkan, sehingga kita melihat langit berwarna jingga atau merah.
Gejala efek tyndall yang dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari adalah
sebagai berikut:
– Sorot lampu mobil
pada malam yang berkabut
– Sorot lampu
proyektor dalam gedung bioskop yang berasap dan berdebu
– Berkas sinar
matahari melalui celah pohon-pohon pada pagi yang berkabut
b. Gerak Brown
Gerak brown merupakan gerak patah-patah
(zig-zag) partikel koloid yang terus menerus dan hanya dapat diamati
dengan mikroskop ultra. Gerak brown terjadi sebagai akibat tumbukan yang
tidak seimbang dari molekul-molekul medium terhadap partikel koloid.Dalam suspensi
tidak terjadi gerak Brown karena ukuran partikel cukup besar, sehingga tumbukan
yang dialaminya setimbang. Partikel zat terlarut juga mengalami gerak Brown,
tetapi tidak dapat diamati. Semakin tinggi suhu, maka gerak brown yang terjadi
juga semakin cepat, karena energi molekul medium meningkat sehingga
menghasilkan tumbukan yang lebih kuat.
Gerak Brown merupakan faktor penyebab stabilnya partikel koloid dalam
medium dispersinya. Gerak brown yang terus menerus dapat mengimbangi gaya
gravitasi sehingga partikel koloid tidak mengalami sedimentasi (pengendapan).
c. Elektroforesis
Partikel koloid dapat bergerak dalam
medan listrik karena partikel koloid bermuatan listrik. Pergerakan partikel
koloid dalam medan listrik ini disebut elektroforesis. Jika dua batang
elektrode dimasukkan kedalam sistem koloid dan kemudian dihubungkan dengan
sumber arus searah, maka partikel koloid akan bergerak kesalah satu elektrode
tergantung pada jenis muatannya. Koloid bermuatan negatif akan bergerak ke
anode (elektrode positif) sedang koloid bermuatan positif akan bergerak ke
katode (elektrode negatif).
Elektroforesis dapat digunakan untuk
mendeteksi muatan partikel koloid. Jika partikel koloid berkumpul dielektrode
positif berarti koloid bermuatan negatif, jika partikel koloid berkumpul
dielektrode negatif bearti koloid bermuatan positif. Peristiwa elektroforesis
ini sering dimanfaatkan kepolisian dalam identifikasi/tes DNA pada jenazah
korban pembunuhan/ jenazah tak dikenal
d. Adsorpsi
Adsorpsi adalah peristiwa di mana
suatu zat menempel pada permukaan zat lain, seperti ion H+ dan OH– dari
medium pendispersi. Untuk berlangsungnya adsorpsi, minimum harus ada dua macam
zat, yaitu zat yang tertarik disebut adsorbat, dan zat yang menarik
disebut adsorban. Apabila terjadi penyerapan ion ada permukaan partikel
koloid maka partikel koloid dapat bermuatan listrik yang muatannya ditentukan
oleh muatan ion-ion yang mengelilinginya.
Partikel koloid mempunyai kemampuan
menyerap ion atau muatan listrik pada permukaannya. Oleh karena itu partikel
koloid bermuatan listrik. Penyerapan pada permukaan ini disebut dengan
adsorpsi. Contohnya sol Fe(OH)3 dalam air
mengadsorpsi ion positif sehingga bermuatan positif dan sol As2S3 mengadsorpsi
ion negatif sehingga bermuatan negatif. Pemanfaatan sifat adsorpsi koloid dalam
kehidupan antara lain dalam proses pemutihan gula tebu, dalam pembuatan norit
(tablet yang terbuat dari karbon aktif) dan dalam proses penjernihan air dengan
penambahan tawas.
e. Koagulasi
Koagulasi adalah peristiwa pengendapan atau penggumpalan koloid. Koloid
distabilkan oleh muatannya. Jika muatan koloid dilucuti atau dihilangkan, maka
kestabilannya akan berkurang sehingga dapat menyebabkan koagulasi atau
penggumpalan. Pelucutan muatan koloid dapat terjadi pada sel elektroforesis
atau jika elektrolit ditambahakan ke dalam system koloid. Apabila arus listrik
dialirkan cukup lama kedalam sel elektroforesis, maka partikel koloid akan
digumpalkan ketika mencapai electrode. Koagulasi koloid karena penambahan
elektrolit terjadi karena koloid bermuatan positif menarik ion negative dan
koloid bermuatan negative menarik ion positif. Ion-ion tersebut akan membentuk
selubung lapisan kedua. Jika selubung itu terlalu dekat, maka selubung itu akan
menetralkan koloid sehingga terjadi koagulasi.
Beberapa contoh peristiwa koagulasi dalam kehidupan sehari-hari adalah:
– Pembentukan delta
di muara sungai karena koloid tanah liat dalam air sungai mengalami koagulasi
ketika bercampur dengan elektrolit dalam air laut.
– Karet dalam latek
digumpalkan dengan menambahkan asam formiat
– Lumpur koloidal
dalam air sungai dapat digumpalkan dengan menambahkan tawas
– Asap atau debu
pabrik dapat digumpalkan dengan alat koagulasi listrik dari cottrel.
2.4
.
Pembuatan Koloid
Pembuatan
koloid ada dua macam yaitu dengan cara dispersi dan
A.
Pembuatan koloid dengan cara dispersi
Dengan cara
dispersi partikel kasar dipecah menjadi partikel koloid. Cara dispersi dapat
dilakukan dengan 3 jenis yaitu :
. 1. Cara mekanik, yaitu menggerus (menggiling)
partikel kasar sampai berukuran koloid, contohnya membuat koloid belerang dan
urea masing-masing dari butirannya.
2. Cara elektronik, yaitu membuat koloid dengan
mencelupkan dua elektroda logam (seperti emas) ke dalam air. Akibatnya
atom-atom emas lepas dari elektroda dan bergabung membentuk partikel koloid
emas (gambar 10.6). Demikian juga cara membuat koloid lain, seperti platina dan
perak.
3. Cara peptisasi, yaitu membuat koloid dengan menambahkan suatu cairan kapada partikel kasar
(endapan) sehingga pecah menjadi koloid. Contohnya membuat koloid AgCl dengan
menambahkan air suling kepada padatan AgCl, dan menambahkan HCl encer pada
endapan Al (OH)3 dapat dibuat dengan
menambahkan larutan FeCI3 pada endapan Fe(OH)3.
B.
Pembuatan koloid dengan cara
kondensasi
Kondensasi adalah kebalikan dari dispersi, yaitu
penggabungan (kondensasi) partikel kecil menjadi lebih besar sampai berukuran
koloid.Penggabungan ini terjadi dengan berbagai cara,
Dan cara pembuatan koloid kondensasi
terbagi 4 jenis yaitu :
1.
Reaksi Oksidasi
Pembuatan sol dengan cara oksidasi, misalnya
pembuatan sol belerang. Sol belerang dibuat dengan mengalirkan gas H2S ke dalam
larutan SO2.
Reaksi:
2 H2S(g) + SO2(g)
3 S(s) + 2 H2O(l)
Pada reaksi di atas S2– dioksidasi menjadi S.
2. Reaksi Reduksi
Sol dari logam Pt, Ag, dan Au dapat dibuat dengan
cara mereaksikan larutan encer ion logam dengan zat pereduksi misalnya FeSO4,
formaldehida, dan timah klorida. Contohnya pembuatan sol emas.
Reaksi:
2 AuCl3(aq) + 3
SnCl2(aq) 2 SnCl4(aq) + 2 Au(s)
sol emas
Pada reaksi tersebut ion Au3+ direduksi menjadi
logam emas.
3. Reaksi Hidrolisis
Pembuatan koloid dengan cara reaksi hidrolisis,
contohnya pembuatan sol Fe(OH)3. Reaksi:
FeCl3(aq) + 3 H2O(l) Fe(OH)3(s) + 3 HCl(aq)
4. Dekomposisi Rangkap
Sol As2S3 dapat dibuat dari reaksi antara larutan H3AsO3 dengan larutan H2S
2H3AsO3 + 3H2S As2S3 (koloid) + 6H2O
Misalnya:
– Sol As2S3 dibuat dengan gaya mengalirkan H2S dengan perlahan-lahan melalui
larutan As2O3 dingin sampai terbentuk sol As2S3 yang berwarna kuning terang;
As2O3 (aq) + 3H2S(g) As2O3 (koloid) + 3H2O(l)
(Koloid As2S3 bermuatan negatif karena permukaannya menyerap ion S2-)
– Sol AgCl dibuat dengan mencampurkan larutan AgNO3 encer dan larutan HCl
encer;
AgNO3 (ag) + HCl(aq) AgCl (koloid) + HNO3 (aq)
III . PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
Kami selaku pembuat makalah kami
menginginkan agar guru kimia dapat membuat murid-murid agar bisa menyukai
pembelajaran kimia
3.3 Daftar Pusaka
http://sistemkoloid11.blogspot.com/http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_koloid
http://thafransisca.wordpress.com





